Manajemen Keselamatan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji

14 November 2010

Abstrak

Meningkatnya kebutuhan elpiji secara drastis di Indonesia karena program nasional konversi pemakaian minyak tanah ke elpiji di masyarakat mengakibatkan bermunculan pendirian Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di berbagai wilayah Indonesia. Bermunculannya SPBE tersebut tentunya harus diikuti dengan manajemen keselamatan yang baik dalam operasionalnya. Tuntutan target pemenuhan kebutuhan pasokan elpiji di masyarakat mengakibatkan SPBE bertambah bebannya untuk memenuhi permintaan ELPIJI tersebut.

Pembangunan SPBE diketahui mempunyai risiko terhadap bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh berbagai kejadian potensial yang disebabkan oleh pekerja, kondisi operasi, bahan-bahan yang terlibat, tata letak peralatan dan bangunan, dan lain sebagainya. Bahaya-bahaya yang bisa terjadi di SPBE adalah bahaya flash fire, vapor cloud explosion , fireball,  BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion) dan  terlepasnya uap gas Elpiji yang dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan manusia di sekitarnya, sementara kemungkinan kecelakaan kerja yang berkaitan dengan aktifitas pekerja operator adalah menghirup debu, menghirup gas elpiji, terpeleset, terjepit tabung, terjatuh, mata kemasukan debu dan tertindih tabung.

Dilihat dari konsekuensi yang dapat timbul akibat dari radiasi termal kebakaran berupa paparan energi panas atau efek ledakan yang dapat berupa proyektil ataupun efek langsung ke badan, maka keberadaan SPBE harus mementingkan perlindungan terhadap pekerja,  publik dan lingkungan,  termasuk juga dengan usaha-usaha  meminimalkan risiko kecelakaan yang mungkin terjadi dengan menjauhkan instalasi berbahaya dari pemukiman dan pusat-pusat populasi penduduk seperti rumah sakit, sekolah, perkantoran, dan pertokoan. Selanjutnya diperlukan kerja sama dan koordinasi antara berbagai pihak terkait, baik dari pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk menetapkan perencanaan emerjensi dalam kondisi yang berbahaya bagi masyarakat yang bermukim di sekitar fasilitas SPBE.

Kata kunci: flash fire, vapor cloud explosion , fireball,  BLEVE,  kecelakaan kerja


Analisis Bahaya Kebakaran dan Ledakan Pada Industri Kimia

6 January 2009

Afan Kurniawan, M.T

 

Abstrak

 

Pembangunan industri kimia diketahui mempunyai risiko terhadap bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh berbagai kejadian potensial yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh kondisi operasi, bahan-bahan yang terlibat, tata letak peralatan dan bangunan, rancangan bangunan dan sebagainya.

Efek yang ditimbulkan dari kebakaran industri kimia adalah radiasi termal kebakaran berupa paparan energi panas. Tubuh manusia apabila terpapar dengan energi panas bisa mengakibatkan timbulnya rasa sakit, atau bahkan terbakar hingga hangus. Oleh karena itu konsekuensi dari paparan energi panas pada manusia bisa berupa rasa sakit, luka bakar atau kematian.     

Bahaya utama yang mengancam manusia karena efek ledakan   bisa berupa  proyektil, runtuhan bangunan ataupun efek langsung ke badan. Bagian tubuh  manusia yang paling peka terhadap bahaya ledakan adalah telinga dan paru-paru. Bahaya kematian atau luka-luka terhadap manusia timbul karena pengaruh ledakan yang berhubungan erat dengan tekanan sumber ledakan.

Untuk pihak yang bertanggung jawab terhadap keberadaan instalasi berbahaya harus mementingkan perlindungan terhadap pekerja,  publik dan lingkungan,  termasuk juga dengan usaha-usaha  meminimalkan risiko kecelakaan yang mungkin terjadi dengan menjauhkan instalasi berbahaya dari pemukiman dan pusat-pusat populasi penduduk seperti rumah sakit, sekolah, perkantoran, dan pertokoan. Selain itu juga harus menetapkan perencanaan emerjensi dalam kondisi yang berbahaya bagi masyarakat yang bermukim di sekitar fasilitas industri kimia.

 

Kata kunci: Industri kimia, Kebakaran,, Ledakan.


Strategi Penggunaan Energi Untuk Sektor Transportasi Di Daerah Istimewa Yogyakarta Untuk Mengurangi Pencemaran Udara

6 January 2009

 

Abstrak

 

Dengan terus meningkatnya populasi kendaraan bermotor di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencapai rata-rata 11,6% pertahunnya, menyebabkan peningkatan polusi terhadap lingkungan dan meningkatnya kemacetan lalu lintas. Selain sebagian besar waktu disita oleh kemacetan lalu lintas, konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor tersebut juga meningkat. Gas buang sisa pembakaran BBM mengandung bahan-bahan pencemar sepertiSO2 (Sulfur Dioksida), NOx (Nitrogen Oksida), CO (Karbon Monoksida), VHC (Volatile hydrocarbon), SPM (Suspended Particulate Matter) dan partikel lainnya. Bahan-bahan pencemar tersebut dapat berdampak negatif terhadap manusia ataupun ekosistem bila melebihi konsentrasi tertentu.

Oleh karena itu perlu suatu strategi yang tepat dalam penggunaan energi di sektor transportasi untuk mengurangi emisi polutan ini sehingga penggunaan energi dapat tetap ramah terhadap lingkungan. Salah satu upaya penting dalam rangka menciptakan sistem transportasi angkutan angkutan umum yang ramah lingkungan di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan seperti bioetanol dan biodiesel.

 

Kata Kunci: energi, transportasi, pencemaran udara


Analisis Kecelakaan Kerja di Stasiun Pengisian Tabung LPG

24 December 2008

ABSTRAK

Semenjak mulai dihilangkannya subsidi terhadap harga BBM, maka Pemerintah Republik Indonesia mulai melaksanakan program konversi penggunaan minyak tanah yang digantikan dengan LPG. Program nasional pengalihan ke elpiji akan dilaksanakan dengan mengalihkan subsidi ke LPG tabung 3 kg yang direncanakan secara bertahap pada 2007 s/d 2012. Hal ini tentu semakin menambah jumlah produksi stasiun pengisian tabung LPG dalam memenuhi kebutuhan masyarakat mencukupi kebutuhan energinya, setelah minyak tanah ditarik dari peredaran. Meningkatnya produksi mengakibatkan para pekerja di stasiun pengisian tabung LPG bertambah bebannya untuk memenuhi permintaan LPG tersebut. Kecelakaan kerja yang sering terjadi di stasiun pengisian LPG adalah menghirup debu, menghirup gas elpiji, terpeleset, terjepit tabung, terjatuh, mata kemasukan debu dan tertindih tabung.

Melalui pengenalan, pengetahuan serta pengalaman mengenai faktor penyebab, sumber bahaya, data dan, penyelidikan kasus-kasus kecelakaan, sekaligus juga melakukan analisis yang mendalam, maka identitifikasi tentang jenis dan macam sumber bahaya kecelakaan kerja dapat lebih mudah dilakukan. Upaya perbaikan secara teknis pada semua proses produksi lebih ditujukan ke arah upaya pencegahan kecelakaan, bukan sekedar perbaikan untuk teknis operasional belaka. Hal ini tentunya akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas pekerja yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja perusahaan.

Kata Kunci: kecelakaan, keselamatan, kesehatan, kerja,  stasiun pengisian, tabung LPG



Aku dan Sepeda

1 November 2008

Bermula dari rasa iseng karena ingin mencoba naik sepeda ke kampus, akhirnya saya mengambil keputusan untuk membeli sepeda. Sepeda jenis city bike bermerk Polygon menjadi pilihan ku. Pertama kali kali menggunakan sepeda hanyalah untuk keperluan keliling kampung saja, atau paling ke toko dekat rumah untuk keperluan mendadak. Lalu pada hari Minggu mulai kupakai keliling kota atau ke alun-alun selatan Yogyakarta untuk berolahraga. Lama-lama meningkat jarak yang kutempuh dengan sepeda itu, hingga ke kampus ku dahulu UPN ”Veteran” Yogyakarta yang di Jalan Babarsari. Kira-kira kalau dari rumahku di daerah Gedongkiwo ya sekitar 15 Km. Lalu akhirnya pernah kupakai untuk keliling ring road Yogyakarta. Ternyata itu menjadi awal mulaku untuk mulai menggemari kembali aktivitas bersepeda yang mungkin sudah sekitar 15 tahun tidak kujalani. Ternyata kegemaran baru ini mempunyai efek yang positif, saya menjadi lebih sehat dan bersemangat menjalani aktivitas keseharian..